JAKARTA - Perkembangan industri keuangan berbasis syariah kembali mendapat sorotan menjelang tahun 2026. Di tengah dinamika ekonomi dan perubahan kebutuhan masyarakat, perbankan syariah dinilai memiliki ruang tumbuh yang masih sangat luas.
Keyakinan tersebut tercermin dari pandangan pelaku industri yang melihat peluang pasar domestik belum tergarap optimal. Dengan populasi besar dan kesadaran keuangan yang terus meningkat, Indonesia dinilai memiliki fondasi kuat untuk mendorong pertumbuhan perbankan syariah.
PT Bank BCA Syariah menyatakan optimisme bahwa industri perbankan syariah di Indonesia akan terus berkembang pada 2026 dan tahun-tahun berikutnya. Optimisme ini didorong oleh potensi pasar yang besar serta dukungan ekosistem yang semakin matang.
Direktur BCA Syariah, Pranata, menilai tingkat penetrasi perbankan syariah di Indonesia masih relatif kecil. Meski demikian, tren pertumbuhan yang konsisten dari tahun ke tahun menjadi sinyal positif bagi industri.
Menurutnya, kondisi tersebut justru membuka ruang ekspansi yang lebih luas. Pertumbuhan yang terjadi saat ini menunjukkan minat masyarakat terhadap layanan keuangan syariah semakin meningkat.
“Kami melihat potensi pasar Indonesia sangat besar. Penetrasi perbankan syariah memang masih kecil, namun pertumbuhannya cukup menggembirakan,” ujar Pranata.
Pernyataan tersebut mencerminkan keyakinan bahwa perbankan syariah berada di jalur yang tepat. Dengan strategi yang tepat, pertumbuhan diyakini dapat terus dipercepat.
Fondasi Prinsip Syariah dan Dukungan Ekosistem
Pranata menjelaskan bahwa prinsip perbankan syariah menjadi salah satu kekuatan utama industri ini. Nilai keadilan, transparansi, dan kemaslahatan dinilai relevan dengan kebutuhan masyarakat modern.
Prinsip tersebut menjadi fondasi kuat dalam menyediakan layanan keuangan yang inklusif. Selain itu, pendekatan syariah juga mendukung keberlanjutan jangka panjang.
Menurut Pranata, masyarakat semakin membutuhkan layanan keuangan yang tidak hanya kompetitif, tetapi juga beretika. Hal ini menjadi peluang besar bagi perbankan syariah untuk memperluas jangkauan.
Dukungan regulator yang semakin kuat juga turut mempercepat pengembangan industri. Regulasi yang jelas memberikan kepastian hukum bagi pelaku usaha dan nasabah.
Selain regulasi, pengembangan ekosistem halal turut menjadi pendorong pertumbuhan. Sinergi antara sektor keuangan dan industri halal membuka peluang baru bagi perbankan syariah.
Ekosistem halal mencakup berbagai sektor, mulai dari makanan dan minuman hingga pariwisata. Keterkaitan ini memperluas peran bank syariah dalam pembiayaan dan layanan transaksi.
Pranata menambahkan bahwa pertumbuhan pangsa pasar perbankan syariah tidak bisa dilakukan secara sendiri. Dibutuhkan peran aktif seluruh pemangku kepentingan.
Regulator dan pelaku industri dinilai perlu bergerak searah. Kolaborasi menjadi kunci untuk memperkuat daya saing perbankan syariah nasional.
Tantangan Literasi dan Penguatan Fundamental
Di sisi lain, Pranata mengakui masih terdapat sejumlah tantangan yang dihadapi industri perbankan syariah. Salah satunya adalah penguatan fundamental keuangan.
Penguatan modal dan manajemen risiko menjadi aspek penting dalam menjaga keberlanjutan bisnis. Hal ini diperlukan agar bank syariah mampu bersaing secara sehat.
Selain itu, inovasi digital juga menjadi tantangan yang tidak bisa diabaikan. Perkembangan teknologi menuntut bank syariah untuk terus beradaptasi.
Digitalisasi dinilai penting untuk menjangkau nasabah yang lebih luas. Layanan berbasis teknologi juga meningkatkan efisiensi operasional bank.
Peningkatan literasi keuangan syariah turut menjadi pekerjaan rumah bagi industri. Masih banyak masyarakat yang belum sepenuhnya memahami produk dan layanan syariah.
Kurangnya pemahaman tersebut dapat menghambat pemanfaatan layanan keuangan syariah. Oleh karena itu, edukasi kepada masyarakat menjadi hal yang krusial.
Saat ini, pangsa pasar BCA Syariah berada di kisaran 2,7% dari total Bank Umum Syariah di Indonesia. Angka ini menunjukkan posisi yang masih memiliki ruang ekspansi besar.
Menurut Pranata, capaian tersebut mencerminkan peluang pertumbuhan yang terbuka lebar. Dengan strategi yang tepat, pangsa pasar dapat terus ditingkatkan.
Posisi ini juga menunjukkan bahwa persaingan di industri masih dinamis. Bank syariah perlu terus memperkuat diferensiasi layanan.
Peran Jaringan, Teknologi, dan Regulasi
Berdasarkan kajian internal BCA Syariah, terdapat beberapa faktor penentu pertumbuhan industri. Salah satunya adalah luasnya jaringan kantor.
Jumlah cabang yang tersebar di berbagai wilayah dinilai memudahkan akses layanan bagi masyarakat. Kehadiran fisik tetap menjadi faktor penting, terutama di daerah.
Selain jaringan fisik, layanan digital yang andal juga menjadi kunci. Masyarakat kini semakin mengandalkan transaksi berbasis digital.
Kombinasi jaringan dan teknologi dinilai mampu mempercepat penetrasi pasar. Bank syariah dituntut untuk menghadirkan layanan yang mudah dan cepat.
Regulasi pemerintah juga berperan penting dalam mendukung pertumbuhan. Kepastian hukum memberikan rasa aman bagi pelaku industri dan nasabah.
Selain itu, regulasi berfungsi menjaga kepatuhan terhadap prinsip syariah. Hal ini penting untuk menjaga kepercayaan publik terhadap bank syariah.
“Teknologi dan daya saing produk saling berkaitan dalam pengembangan layanan yang inovatif, digital, dan sesuai dengan kebutuhan nasabah,” jelas Pranata.
Ia menambahkan bahwa literasi keuangan syariah akan mendorong pemahaman masyarakat. Dengan pemahaman yang lebih baik, potensi pemanfaatan produk syariah semakin besar.
Penguatan literasi juga berdampak pada loyalitas nasabah. Nasabah yang memahami produk cenderung menggunakan layanan secara berkelanjutan.
Strategi Ekspansi dan Target Kinerja 2026
Ke depan, BCA Syariah menargetkan pertumbuhan kinerja yang solid dan berkelanjutan. Fokus utama diarahkan pada pembiayaan dan penghimpunan dana.
Pranata optimistis pembiayaan dan dana pihak ketiga dapat mencatatkan pertumbuhan positif pada 2026. Optimisme ini didukung oleh strategi ekspansi yang telah disiapkan.
Untuk mencapai target tersebut, BCA Syariah akan menjalankan sejumlah inisiatif. Penguatan layanan digital menjadi salah satu prioritas utama.
Selain digital, pengembangan jaringan fisik juga tetap dilakukan. Langkah ini bertujuan memperluas jangkauan layanan ke berbagai segmen masyarakat.
BCA Syariah juga akan memperkuat sinergi dengan induk usaha, PT Bank Central Asia Tbk. Sinergi ini diharapkan mendorong pertumbuhan jumlah nasabah.
Selain itu, sinergi dengan induk usaha juga mendukung perolehan dana murah. Hal ini penting untuk menjaga efisiensi biaya dana.
Beberapa inisiatif yang disiapkan antara lain penambahan fitur pada mobile banking BSya. Pengembangan internet banking BIQ juga menjadi fokus.
Selain itu, layanan virtual account management akan terus diperkuat. Pengembangan layanan berbasis application programming interface turut menjadi perhatian.
Penguatan layanan bank devisa juga menjadi bagian dari strategi. Langkah ini bertujuan mendukung kebutuhan transaksi nasabah yang semakin beragam.
Dengan berbagai inisiatif tersebut, BCA Syariah optimistis mampu menjaga momentum pertumbuhan. Perbankan syariah diyakini akan semakin relevan di masa depan.